Banjir Rusak Fasilitas, SMAN 12 Padang Butuh Mobiler dan Air Bersih

by Redaksi
A+A-
Reset

PADANG, KP — Banjir bandang yang merendam SMAN 12 Padang pada November 2025 masih menyisakan persoalan fasilitas sekolah. Meja dan kursi rusak, air bersih bermasalah, serta lapangan olahraga yang belum memadai menjadi kebutuhan yang disampaikan pihak sekolah.

Persoalan tersebut disampaikan saat Wakil Ketua DPRD Sumbar Evi Yandri Rajo Budiman menggelar reses perseorangan di SMAN 12 Padang, Jumat (21/8). Kegiatan itu merupakan bagian dari masa persidangan ketiga Tahun Sidang 2025-2026.

Seorang guru meminta bantuan pengadaan mobiler berupa meja, kursi, dan loker. Fasilitas lama rusak setelah terendam lumpur saat banjir. “Kami memerlukan meja dan kursi baru, Pak. Fasilitas yang lama sudah tidak layak pakai karena terendam lumpur saat banjir bandang kemarin,” ujar guru tersebut.

Selain merendam bangunan sekolah, banjir November 2025 meninggalkan endapan lumpur di lingkungan sekolah. SMAN 12 Padang kembali terdampak banjir pada 3 Agustus 2026, meski air cepat surut.

Pihak sekolah juga meminta solusi agar banjir tidak mengganggu akses menuju sekolah. Seorang siswa mengatakan kondisi tersebut menyulitkan aktivitas belajar. “Pak, mohon dicarikan solusi agar sekolah dan jalan akses ke sini tidak banjir lagi. Kami kesulitan untuk datang belajar,” katanya.

Masalah lain yang dihadapi sekolah adalah ketersediaan air bersih. Air sumur disebut keruh dan berbau besi, bahkan terkadang tidak tersedia. “Air sekolah keruh dan berbau besi. Bahkan kadang tidak ada air. Padahal sangat dibutuhkan untuk berwudu dan keperluan toilet,” ungkap seorang siswi.

Sekolah telah membuat empat sumur bor dengan kedalaman hingga 60 meter untuk memenuhi kebutuhan lebih dari 1.000 siswa dan guru. Namun, kualitas air masih keruh. “Kalau menggunakan layanan PDAM airnya jernih, tetapi alirannya sering mati sehingga tidak cukup memenuhi kebutuhan sekolah,” jelas seorang guru.

Keterbatasan lapangan olahraga juga menjadi persoalan. Sebagian besar lahan yang sebelumnya digunakan sebagai lapangan kini dimanfaatkan untuk pembangunan gedung baru.

Guru olahraga mengatakan kondisi tersebut dapat memengaruhi penilaian akreditasi sekolah yang dijadwalkan pada 2027. “Tahun 2027 kami menghadapi penilaian akreditasi sekolah. Tanpa lapangan olahraga yang layak, nilai akreditasi kami terancam turun,” ujarnya.

Keterbatasan lapangan membuat siswa terkadang mengikuti pelajaran olahraga di dalam kelas. Untuk kegiatan seperti futsal dan basket, siswa harus menyewa lapangan di luar sekolah dengan biaya sendiri. “Sewa lapangan futsal mencapai Rp200 ribu per jam. Kasihan siswa yang punya semangat tinggi untuk berolahraga,” katanya.

Siswa juga mengusulkan bantuan peralatan ekstrakurikuler, antara lain alat musik tradisional talempong dan tenda untuk kegiatan Palang Merah Remaja (PMR).

Menanggapi persoalan tersebut, Evi Yandri meminta pihak sekolah menyusun perencanaan pembangunan secara menyeluruh agar pengembangan sekolah berkelanjutan. “Harus ada master plan yang jelas. Jangan sampai saat kepala sekolah berganti, kebijakannya ikut berubah. Itu akan menyulitkan pembangunan,” tegasnya.

Evi mengatakan akan membawa persoalan mobiler, lapangan olahraga, dan air bersih tersebut untuk dibahas bersama Dinas Pendidikan Sumbar. Pemenuhan kebutuhan akan diupayakan secara bertahap sesuai kemampuan anggaran.

Dalam pertemuan itu, Evi juga menanyakan keberlanjutan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Siswa meminta program tersebut dilanjutkan dengan peningkatan kualitas makanan. “Kami ingin program ini lanjut, Pak. Namun kualitasnya harus diperbaiki. Menunya jangan telur terus-menerus, dan kebersihannya harus dijaga,” ujar seorang siswa.

Pertemuan turut dihadiri Kabid Pembinaan SMA Dinas Pendidikan Sumbar Mahyan, pengawas sekolah, dan Sekcam Nanggalo. (fai)

Apakah berita ini bermanfaat?
Ya0Tidak0